" Brown (2001) menjelaskan bahwa ketika para ilmuwan mengasumsikan bahwa hanya ada satu gaya kepemimpinan terbaik, Fiedler mengajukan model di mana efektivitas pemimpin tergantung kepada situasi yang dihadapinya. Atau jika ada kecocokan antara gaya kepemimpinan dengan situasi yang mendukung atau disebut dengan control situasi (situational control) "“Di waktu penuh kekacauan, itu adalah kesempatan terbaik bagi siapa saja yang dapat memahami, menerima dan mengeksploitasi realitas baru ini: Di atas segalanya, ini adalah waktu dan kesempatan yang terbaik bagi kepemimpinan” (Falk, 2003).
“Tindakan yang anda ambil dalam tiga bulan pertama akan sebagian besar menentukan apakah anda sukses atau gagal dalam jangka panjang,” kata Watkins (2004).
Gaya kepemimpinan berupa perintah (directing leadership style) dipakai oleh pemimpin ketika hubungan pemimpin dan pengikutnya buruk dan posisi pemimpin kuat. Sedangkan gaya kepemimpinan mendukung (supporting style) digunakan jika bawahan telah memiliki pendidikan formal, dan struktur tugas sederhana dan dilakukan berulang-ulang, atau dinamakan tugas rutin (Pechlivanidis dan Katsimpra; 2004).
Agar sukses menjadi seorang pemimpin, Emiliani (2003) menawarkan beberapa kompetensi utama yang harus dimiliki oleh seorang pemimpin: Keahlian kepemimpinan, berpikir analitis, kemampuan komunikasi, kemampuan pengambilan keputusan, membangun hubungan, melakukan perencanaan strategis, dan memiliki kecerdasan emosi.
Jack Welch (2004) mantan CEO General Electric menegaskan hal ini, “Mereka (para pemimpin) harus berkomunikasi. Anda harus selalu berkomunikasi dengan karyawan agar mereka menghentikan perasaan buruk yang ada pada diri mereka.
”Brightman (1999) menawarkan kepada pemimpin cara pandang alternatif terhadap suatu organisasi. Dia menyarankan karena sukses suatu organisasi dibangun atas dasar partisipasi dan kerja yang baik dari karyawannya, sebaiknya organisasi dipandang sebagai sebuah negara. Dengan demikian anggota negara itu akan melakukan organizational citizenship yang didefinisikan sebagai komitmen sukarela yang konsisten terhadap tujuan, metoda, sukses sebuah organisasi.
Bennis dan Nanus dalam Morden (1997), mengidentifikasi kualitas kunci kepemimpinan sebagai berikut: • Kesadaran pada diri sendiri, meningkatkan pengetahuan diri, dan kesadaran terhadap keterbatasan diri sendiri dan orang lain;• Ketekunan pribadi dan komitmen;• Keinginan dan kemauan untuk selalu belajar;• Kemampuan mengenali, belajar, dan mencari hikmah dari kegagalan dan kesalahan;


Tidak ada komentar:
Posting Komentar