’Pencarian agama yang benar dan hakiki ternyata begitu susah bagi orang yang tidak tahu ilmunya. Ternyata meski banyak aral, tetap saja panggilan Illahi lebih kuat daripada apapun di dunia ini bagi orang-orang yang terpilih menggunakan akalnya........’
Oleh : Ir. Setiaji, MKom
Sebenarnya ia lahir dari keluarga sederhana, disaat duduk di sekolah dasar pun ia rajin mengaji dan magriban di masjid, bahkan sempat juga lho....jadi juara II adzan untuk tingkat sekolah dasar di masjid dekat tempat tinggalnya, akibat desakan ekonomi, disamping iman yang kurang kuat, saat usia ia menginjak tiga belas tahun, orang tuanya menyekolahkannya pada SMP Kristen yang kemudian melanjutkannya pada SMA Kristen juga. Di sekolah itu ia menerima pelajaran tentang Ketuhanan Yesus dan Bunda Maria. Ajaran ini sangat melekat di otaknya.
’ Kamu itu diibaratkan gelas kosong, kamu akan minta isi apa saja, kita akan siap memenuhinya...................asalkan............’, demikian tawaran seorang tokoh agama disaat ia masih remaja.
Bagi ia saat itu, kepercayaan satu-satunya agama yang benar adalah setelah ia dapat melihat atau membuktikan Allahnya, bukan percaya karena faktor keturunan atau karena faktor orang-tua, apalagi diiming-imingi harta, tahta dan wanita...........
Dari hari-hari ia semakin tertarik untuk mendalami berbagai agama yang bisa memberikan jalan untuk menemukan Allahnya. ’........kalau kamu ingin tahu Allahmu maka berbuat baiklah ................’, demikian dikatakan seorang tokoh agama itu. Maka anjuran itu dicobanya....tetapi ia belum juga menemukan apa yang ia inginkan. ’..............Allahmu adalah air, api dan udara...............’, ungkap tokoh agama lain memberikan pendapatnya. Lagi-lagi ia gagal menemukan Allahnya. ’Kalau kamu mau berzikir mudah-mudahan kamu bisa........., kalau belum bisa kamu harus mati supaya keinginanmu tercapai.....’, saran tokoh agama lain. Dicobanya berbagai saran itu, kecuali saran harus mati itu, ternyata belum bisa juga.
’.......kamu ini mimpi, ndah usah sok sucilah, yang dapat wahyu itu orang-orang pilihan.......bukan kayak kamu yang masih suka ’nginceng’ bareng..............mati dulu sajalah kamu kalau masih tidak percaya..........’, demikian komentar teman-temannya saat itu.
Ia berupaya untuk dapat memandang segala pengetahuannya seobyektif mungkin, atas karunia Allah, pada tahun 2005, Allhamdulilah melalui petunjuk dan dalil-dalil kitab suci dari seorang guru agama, diawali sholat yang baik dan benar, tirakat puasa dan doa di bulan suro, akhirnya terjawab sudah keinginan itu, dalam hati yang terdalam iapun berkata, '...............cahaya islam engkaulah cahaya keagungan, cahaya islam engkaulah peneduh kehidupan...............'., terbukalah matahatinya, iapun lebih memantapkan kepercayaannya pada Islam.
Pelajaran 14 :
Dari pengalaman, kalau kita menginginkan ilmu yang baik, sebaiknya kita mencoba belajar pada guru yang ’nomor satu’, meskipun terkadang otak manusia tak mampu mencerna ilmunya..........................



Tidak ada komentar:
Posting Komentar