Oleh : Ir. Setiaji, MKom
Pengalaman tidak terlupakan ketika ia masih tumbuh sebagai remaja, seperti layaknya remaja ia mencoba untuk beradaptasi dengan lingkungannya. Iapun penasaran dengan istilah istilah aaa yang digembar-gemborkan teman-temannya itu yang ternyata berarti ’abang’, ’abuh’, dan ’anget’ . Rabu malam yang ditunggu tiba sudah, perlahan tapi pasti dengan semangat yang tak kunjung padam, ia dan teman-temannya menuju ’lubang’ yang mereka buat dengan harapan langsung dapat tontonan. ’wah......masih pada tidur.......’, bisik yono pilpol sambil cengingisan kegirangan. Lalu ia berfikir, sebaiknya kita gunakan strategi pertama yaitu dengan melempar kerikil ke genteng supaya dia bangun tidur ......terus....... ’eh....ternyata masih tidur... juga’. Lalu digunakannya strategi kedua dengan mematikan saklar listrik, ’lagi-lagi masih tidur juga’, strategi ke tigapun langsung digunakan dengan menelpon nomor rumah itu, tapi tetap tidak berhasil. Akhirnya atas rembugan dan kesepakatan 'gank anak kolong' itu, dicoblosnya dengan lidi anak yang lagi tidur di samping ibunya, sudah dapat diduga......aiiiiiiiii...aiiiiii.....,anak itu menangis dan teriak kesakitan. Segera cempluk dan suaminya bangun menimang anaknya supaya tidur lagi..... Sepinya malam tidak menyiutkan nyali mereka, tidak lama kemudian terdengar nafas suara '....oh..uh..oh..ih..heeh..hooh..nak...nak... tenan....', dengan perhitungan durasi 60 detik mereka saling berebutan dalam lubang itu sambil berkata ’mantap beneeer.......luar biasa.....cleguk.....cleguk......’
Sukses dengan satu lubang, mereka membuat dua lubang lagi, dengan iseng mereka tulisi dengan lubang1, Rp.500, lubang 2, Rp.1000, lubang 3. Rp. 1500, hingga animo pengunjung bertambah tidak remajanya yang ketagihan berkunjung ke lubang itu, tapi juga banyak orang tuanya dengan alasan ikut ronda malam. ’Gimana kalau kita kerjain teman-teman supaya tidak berebutan di lubang itu’, bisik budi oshin, iapun menyetujuinya. Disaat waktu yang ditunggu tiba, diambilnya ’lencong’ ayam tetangga dan ditempelkannya di sekitar lubang itu. Pada awalnya mereka kuat, akhirnya mereka tergopoh-gopoh tidak kuat menahan aroma yang menyengat yang membikin mereka mual-mual. Sejak saat itulah animo berebut lubang berkurang total.
’Berhasiiil......!!!..berhasiiiil......!!!, mahasiswi perawat indekos yang cantik itu...................’,teriak oneng kegirangan menginformasikan temuan barunya, dibawanya spion motor dan teman-temannya menuju sasaran. ’Gedubrag.....brak.... penyangga untuk membangun rumah roboh tidak kuat menyangga gerombolan 'anak kolong' yang bergantian melongok teralis jendela. Untunglah suara itu tidak membuat kegaduhan, masih penasaran dengan 'bodi licin' perawat cantik yang semlohe itu....., diambilnya tangga milik pak RT yang disimpan secara rapi dan tersembunyi di langit-langit genteng rumahnya, lagi asyik-asyiknya menahan nafas enak......brak....kaca tersenggol tangan, sasaranpun langsung bangun, teriak dan lari........., antara cekikikan dan kebingungan merekapun sama lari kocar-kacir menyelamatkan diri. Esok paginya dilaporkannya insiden itu ke pak RT, dan beliaupun langsung mengadakan sidak ke lokasi kejadian, beliaupun kaget dan tersenyum begitu melihat dan mengamati tangga miliknya masih tergeletak di sisi teralis jendela yang 'menganga' kacanya. Beliau berkata, ’ Gambleh......dasaaaar wong edan...!!!!...., pasti ini kelakuan 'anak kolong' disini yang sering pinjam tangga saya........’.
Pelajaran 13 :
Kerjasama mutlak diperlukan dalam segala hal kehidupan, Jika kita ingin berhasil jangan melihat mereka siapa, tetapi mereka berbuat terbaik apa, sehingga kita hidup bisa saling melengkapi untuk mencapai keberhasilan itu.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar