
....... walau hanya seorang serdadu berpangkat kopral, cita-cita sang kopral itu terhadap anaknya sangatlah tinggi. Agar memperoleh sekolahan yang baik dan disiplin tinggi, maka anak itu disekolahkan di taman kanak-kanak milik yayasan TNI di Semarang.....
Oleh : Ir. Setiaji, MKom
’Gundul-gundul pacul-cul gembelengan, nyunggi-nyunggi wakul-kul gembelengan........’, begitulah nyanyian anak sang kopral ketika pertamakali disuruh nyanyi di depan ibu gurunya. Kebiasaan ’peceret’ di celana mengharuskan teman-temannya kocar-kacir berlarian menjauhinya. Waktu tanpa terasa anak itu sudah melanjutkan di sebuah sekolah dasar yang lokasinya dekat asrama dan pasar tradisional, teman-teman sekolahnya kebanyakan terdiri dari sesama ’anak kolong’, anak tukang sayur, anak bakul lombok, anak tukang bakso dll. Pola didik militer diterapkan bapak pada anaknya, kebiasaan cukur rambut model ’kuncung-bawuk’ dan polesan minyak goreng di rambut menjadi tren saat itu, ia dibiasakan cukur setiap minggu oleh tukang cukur langganan bapak yang datang ke rumah.
Kemudian ia melanjutkan ke sekolah SMP Kristen ’kelas siang’, kebiasaan jalan kaki pulang-pergi ke sekolahnya kurang lebih 6 km biasa ia lakoni, berbagai prestasi pelajaranpun diraihnya dengan baik dan yang paling berkesan adalah ketika menjadi juara Galang Tangkas berbagai kegiatan Kepramukaan di tingkat Kwartir dan Kwarda Jawa Tengah.
Pelajaran 2 :
Gunakan bakat alami anda, ketika itu anda lakukan untuk mencapai prestasi tinggi, jauh lebih mudah.
Ketika SMP itu pula ia ikut dalam kegiatan klub sepak bola sekolah, ibarat kemahiran perang ’Laksamana Cheng Hoo’ yang sangat terkenal di kota Semarang ,berbagai posisi pemain sepakbolapun pernah ia coba, Melalui hobi olah raga itulah ia ’siap’ menghadapi tantangan klub sepak bola lain, beberapa diantaranya melakukan pertandingan-pertandingan tingkat sekolah, bahkan pernah melawan klub kampung , klub sepakbola SMA, dan PSIS yunior waktu itu. Dari berbagai pertandingan sekolah hampir semua dimenangkannya, meskipun selalu berganti-ganti kostum dan sepatu bola murahan yang sering ’jebol’, maklum anak sekolah yang banyak keterbatasan dan bermodal ’cekak’..........
Pelajaran 3 :
Berolah raga apapun penting untuk membentuk sikap positif dan percaya diri
Pertandingan yang ditunggu-tunggu adalah ketika mencoba melawan klub sepak bola ’elit’ di kota Semarang. Meskipun disemangati oleh cewek-cewek ’kece-kece dan imut’ di lapangan pertandingan , namun ketika pertandingan digelar dengan PSIS yunior hasilnyapun kalah ’tipis’. Saat itu guru olah raga Bapak Toyo Sumanding berkomentar ’.................Ndak usah sedih to....... mas, yoo................... mesti kalah sama mereka, lha....... wong mereka itu hari-harinya banyak di lapangan ...........’.
Pelajaran 4 :
Sebagai pemimpin harus memberi semangat pada bawahan
Memasuki masa remaja masuk ke sebuah SMA Kristen ’kelas siang’ yang terkenal sering juara band di kota Semarang, prestasi pelajaran hancur-hancuran karena sering mengikuti berbagai kepengurusan kegiatan organisasi sosial dan politik saat itu.
Pelajaran 5 :
Pasang surut prestasi, bukanlah petunjuk bahwa anda gagal, keadaan akan parah jika anda sendiri yang menganggap anda gagal. Jika begitu, anda memang pantas gagal. Semestinya, kegagalan hanyalah sebagai feedback, maju terus dan anda pasti sukses.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar