Dalam keadaan seperti sekarang ini, sering kita mendengar pernyataan para wirausahawan yang mengalami kesulitan dibawah tekanan kenaikan harga. Instinct Business bukan untuk dimiliki. Instinct Business adalah untuk dibuktikan. Pernah dalam satu kesempatan pertama, saudara mencoba memulai wirausaha sebuah toko, dengan berbekal instinct business yang dia punya, analisa yang matang, pemilihan lokasi, produk, target market, harga, dll. Hampir semua faktor yang dapat mempengaruhi bisnisnya, dia telah kuasai. Saya pun waktu mendengarkan penjabarannya, yakin sekali bahwa apa yang telah direncanakannya betul-betul penuh perhitungan dan besar kemungkinan berhasil.
Namun ternyata setelah dia memulai, banyak hal diluar perkiraannya. Paradigmanya berubah setelah dia memulai, dia menyimpulkan bahwa jika kita memikirkan untung ruginya di awal, maka kita tidak akan pernah mencoba, karena pasti akan lebih banyak pengeluaran dan tenaga yang dibutuhkan di awal... padahal, mungkin kita memang harus mengalami keadaan tsb diawal untuk mencapai tahap kemungkinan berhasil. Jika belum berhasil pun, kita masih mendapat keuntungan dari pengalaman yang kita dapat.
Banyak hal baik yang akan datang kepada dia yang melihat sesuatu bukan sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana bisa jadinya.
Beberapa produk yang sebelumnya dia rencanakan akan bisa berhasil ternyata tidak berjalan seperti yang dia harapkan alias tidak mengenai sasaran. Karena, kalau lokasi berjualannya tidak strategis sekali, maka kita tidak bisa hanya menunggu dan mengharapkan orang untuk berbondong-bondong datang membeli. Kita harus menjemput bola untuk memastikan produk kita tepat sasaran dan memastikan sasaran kita tahu bahwa kita menjual produk yang berkenaan dengannya.
Tetapi orang-orang kuat seperti kita tidak tergolong dalam jenis yang hanya menunggu, kita menghampiri, menjemput, dan bahkan menyebabkan kesempatan itu dibuatkan dan disediakan orang lain untuk kita.
Pasti ada orang yang berhasil di bisnis-bisnis yang sedang turun, dan pasti ada juga orang-orang yang gagal di bisnis yang sedang naik.
So, cara pandang kitalah yang menentukan kita untuk menjadi orang rata-rata yang berserah kepada keadaan atau menjadi orang yang sangat kuat, sehingga keadaan apapun tidak dapat menghalanginya untuk berhasil.
Namun ternyata setelah dia memulai, banyak hal diluar perkiraannya. Paradigmanya berubah setelah dia memulai, dia menyimpulkan bahwa jika kita memikirkan untung ruginya di awal, maka kita tidak akan pernah mencoba, karena pasti akan lebih banyak pengeluaran dan tenaga yang dibutuhkan di awal... padahal, mungkin kita memang harus mengalami keadaan tsb diawal untuk mencapai tahap kemungkinan berhasil. Jika belum berhasil pun, kita masih mendapat keuntungan dari pengalaman yang kita dapat.
Banyak hal baik yang akan datang kepada dia yang melihat sesuatu bukan sebagaimana adanya, tetapi sebagaimana bisa jadinya.
Beberapa produk yang sebelumnya dia rencanakan akan bisa berhasil ternyata tidak berjalan seperti yang dia harapkan alias tidak mengenai sasaran. Karena, kalau lokasi berjualannya tidak strategis sekali, maka kita tidak bisa hanya menunggu dan mengharapkan orang untuk berbondong-bondong datang membeli. Kita harus menjemput bola untuk memastikan produk kita tepat sasaran dan memastikan sasaran kita tahu bahwa kita menjual produk yang berkenaan dengannya.
Tetapi orang-orang kuat seperti kita tidak tergolong dalam jenis yang hanya menunggu, kita menghampiri, menjemput, dan bahkan menyebabkan kesempatan itu dibuatkan dan disediakan orang lain untuk kita.
Pasti ada orang yang berhasil di bisnis-bisnis yang sedang turun, dan pasti ada juga orang-orang yang gagal di bisnis yang sedang naik.
So, cara pandang kitalah yang menentukan kita untuk menjadi orang rata-rata yang berserah kepada keadaan atau menjadi orang yang sangat kuat, sehingga keadaan apapun tidak dapat menghalanginya untuk berhasil.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar