Orang yang bijak dalam keadaan apapun akan melihat dari sudut pandang yang tinggi / helicopter view. Ia pastilah juga orang yang adil dan juga penyayang. Keputusan apapun yang diambilnya adalah yang terbaik untuk semua pihak. Dibutuhkan cara yang bijak untuk menyampaikan kebijakan. Ia punya engine untuk memutuskan yang terbaik , maka iapun akan memiliki kualitas hidup yang terbaik.
Bijakpun ada kelas-kelasnya. Seseorang perlu meneladankan dulu sebelum ia berwenang menganjurkan. Dalam proses menganjurkan itulah ia akan naik kelas sehingga ia mampu mengharuskan. Maka teladankanlah kebaikan – maka hak untuk menganjurkan akan diberikan Tuhan kepadanya. Sebagai umatNya kita dapat meminta apapun yang kita perlukan dariNya.
Saat kita merasakan diri ini terbatasi dalam melakukan apapun, selalu ingat untuk melakukan apapun dengan cara yang terbaik, maka Tuhan akan memilihkan yang terbaik. Hal ini seharusnya membuat diri kita bersemangat. Jalannya adalah melakukan apa yang menjadi petunjukNya. Cek apa yang do's & don't yang telah disampaikanNya.
Apa yang kita butuhkan untuk dapat mempercayai seseorang ? Kemampuan untuk mempercayai. Tidak ada orang yang tidak bisa mepercayai; karena bila ia tidak mempercayai sesuatu, ia pasti mempercayai sesuatu yang lain. Bila orang itu sering mengatakan : apa sih kepada nasehat-nasehat bagi kebesarannya – berarti ia mempercayai sesuatu yang mengecilkannya.
Kita perlu membangun kemampuan mempercayai yang baik. Orang yang membangun sensitivitas yang baik haruslah menginginkan yang baik – karena itu akan mewarnai semua tindakannya. Bila seseorang tidak menginginkan yang baik – Tuhan akan ijinkan kesulitan melanda hidupnya. Disini banyak orang yang salah mengerti. Tuhan ingin agar yang baik kelihatan jelas. Result dari orang yang memiliki sensitivitas yang baik - akan mendapatkan yang baik.
Cek pada diri kita masing-masing, apa yang Tuhan inginkan kita mengerti dan pahami dibalik semua kesulitan yang diijinkanNya. Setelah kita mampu mengerti , itulah adalah jalan menuju bijak. Apakah perjalanan menuju bijak ada finishnya ? Bijak bukanlah alamat melainkan nama perjalanan.
Bijakpun ada kelas-kelasnya. Seseorang perlu meneladankan dulu sebelum ia berwenang menganjurkan. Dalam proses menganjurkan itulah ia akan naik kelas sehingga ia mampu mengharuskan. Maka teladankanlah kebaikan – maka hak untuk menganjurkan akan diberikan Tuhan kepadanya. Sebagai umatNya kita dapat meminta apapun yang kita perlukan dariNya.
Saat kita merasakan diri ini terbatasi dalam melakukan apapun, selalu ingat untuk melakukan apapun dengan cara yang terbaik, maka Tuhan akan memilihkan yang terbaik. Hal ini seharusnya membuat diri kita bersemangat. Jalannya adalah melakukan apa yang menjadi petunjukNya. Cek apa yang do's & don't yang telah disampaikanNya.
Apa yang kita butuhkan untuk dapat mempercayai seseorang ? Kemampuan untuk mempercayai. Tidak ada orang yang tidak bisa mepercayai; karena bila ia tidak mempercayai sesuatu, ia pasti mempercayai sesuatu yang lain. Bila orang itu sering mengatakan : apa sih kepada nasehat-nasehat bagi kebesarannya – berarti ia mempercayai sesuatu yang mengecilkannya.
Kita perlu membangun kemampuan mempercayai yang baik. Orang yang membangun sensitivitas yang baik haruslah menginginkan yang baik – karena itu akan mewarnai semua tindakannya. Bila seseorang tidak menginginkan yang baik – Tuhan akan ijinkan kesulitan melanda hidupnya. Disini banyak orang yang salah mengerti. Tuhan ingin agar yang baik kelihatan jelas. Result dari orang yang memiliki sensitivitas yang baik - akan mendapatkan yang baik.
Cek pada diri kita masing-masing, apa yang Tuhan inginkan kita mengerti dan pahami dibalik semua kesulitan yang diijinkanNya. Setelah kita mampu mengerti , itulah adalah jalan menuju bijak. Apakah perjalanan menuju bijak ada finishnya ? Bijak bukanlah alamat melainkan nama perjalanan.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar