Iman dan Keberhasilan
Seringkali kita terlalu larut dalam kesulitan dan kesedihan sehingga menjadikan kita apatis dan tidak alert.
Dalam menghadapi kesulitan, kita perlu untuk melihatnya dari sudut pandang pemenang. Seringkali kita melihatnya dari sudut pandang orang yang selalu kalah.
Dalam proses menghadapi kesulitan, bila dengan sudut pandang yang tepat akan terbuka kesempatan sehingga kesulitan itu menjadi penghantar bagi keberhasilan kita.
Saat kita mampu untuk mensyukuri yang ada, akan tersedia room for improvement dan kita akan dimungkinkan mencapai dan mendapatkan yang lebih baik lagi dari Tuhan.
Seringkali kita hanya menggunakan human logic, padahal kitapun perlu dapat menerima God's logic, karena orang yang bisa menerima God's logic akan disebut orang beriman.
Agama itu adalah ilmunya orang beriman, karena orang yang tidak berilmu hanya meyakini.
Dalam komunitas yang ramah ini tidak menggunakan ancaman, yang dibutuhkan adalah pengertian. Bila pengertian belum kita miliki kita dapat memintanya kepada Tuhan.
Orang akan disegani karena kemampuannya menghukum dan akan disayangi karena kemampuannya memberi. Keseimbangan antara kemampuan memberi dan kemampuan menghukumlah yang membuat orang menghormati kita.
Kita tidak mendapatkan apa-apa karena tidak meminta. Kita perlu untuk meminta kepada Tuhan dan perlu tahu caranya meminta.
Tahap setelah meminta – memantaskan. Bagi orang yang dikenal tidak jujur memantaskan tidak ada gunanya . Ada hal-hal yang membatalkan permintaan dan ada hal-hal yang memantaskan doa, berarti kita semua sedang dalam pemantasan diri.
Setelah memantaskan kita akan menerima dan setelah itu meminta yang lebih besar lagi sehingga dalam memantaskanpun perlu lebih besar lagi.
Dalam menghadapi kesulitan, kita perlu untuk melihatnya dari sudut pandang pemenang. Seringkali kita melihatnya dari sudut pandang orang yang selalu kalah.
Dalam proses menghadapi kesulitan, bila dengan sudut pandang yang tepat akan terbuka kesempatan sehingga kesulitan itu menjadi penghantar bagi keberhasilan kita.
Saat kita mampu untuk mensyukuri yang ada, akan tersedia room for improvement dan kita akan dimungkinkan mencapai dan mendapatkan yang lebih baik lagi dari Tuhan.
Seringkali kita hanya menggunakan human logic, padahal kitapun perlu dapat menerima God's logic, karena orang yang bisa menerima God's logic akan disebut orang beriman.
Agama itu adalah ilmunya orang beriman, karena orang yang tidak berilmu hanya meyakini.
Dalam komunitas yang ramah ini tidak menggunakan ancaman, yang dibutuhkan adalah pengertian. Bila pengertian belum kita miliki kita dapat memintanya kepada Tuhan.
Orang akan disegani karena kemampuannya menghukum dan akan disayangi karena kemampuannya memberi. Keseimbangan antara kemampuan memberi dan kemampuan menghukumlah yang membuat orang menghormati kita.
Kita tidak mendapatkan apa-apa karena tidak meminta. Kita perlu untuk meminta kepada Tuhan dan perlu tahu caranya meminta.
Tahap setelah meminta – memantaskan. Bagi orang yang dikenal tidak jujur memantaskan tidak ada gunanya . Ada hal-hal yang membatalkan permintaan dan ada hal-hal yang memantaskan doa, berarti kita semua sedang dalam pemantasan diri.
Setelah memantaskan kita akan menerima dan setelah itu meminta yang lebih besar lagi sehingga dalam memantaskanpun perlu lebih besar lagi.


Tidak ada komentar:
Posting Komentar