Antara Kalatida, Kalabendu, dan Kalasuba
kalatida adalah era ketika akal sehat diremehkan dan perbedaan antara benar dan salah, baik dan buruk, adil dan tidak adil, tidak lagi digubris. Krisis moral adalah sebuah krisis akal sehat, korupsi merata dan merajalela karena erosi tata nilai terjadi di lapisan atas dan Sementara zaman kalabendu adalah zaman yang mantap stabilitasnya, tetapi alatnya berupa penindasan. Ketidakadilan malah disewakan, ulama-ulama mengkhianati kitab suci, dan penguasa lalim tak bisa ditegur. ’’Selain itu, koruptor dilindungi, kemewahan dipamerkan di samping jeritan kaum miskin dan tertindas, penjahat dipahlawankan, orang jujur ditertawakan dan disingkirkan,’’
Menurut penyair Ronggowarsito, lanjutnya, rakyat Indonesia harus bersikap waspada, tidak mengkompromikan akal sehat. Dan juga harus sabar tawakal. Adapun Kalasuba (zaman kestabilan dan kemakmuran) pasti akan datang bersama ratu adil. Kalasuba pasti akan tiba karena dalam setiap chaos secara built-in ada potensi untuk kestabilan dan keteraturan.
Namun kestabilan itu belum tentu baik untuk kelangsungan kedaulatan rakyat dan kedaulatan manusia yang sangat penting untuk emansipasi kehidupan manusia secara jasmani, sosial, rohani, intelektual dan budaya. Harus ada usaha yang lain, tidak sekadar sabar dan tawakal.
Oleh karena itu rakyat harus aktif mengembangkan usaha untuk mendesak perubahan tata pembangunan, tata hukum, dan tata kenegaraan. Sehingga menjadi lebih baik untuk daya hidup dan daya cipta bangsa. Situasi semacam itu tidak tergantung pada hadirnya Ratu Adil, tetapi tergantung pada hukum yang adil, mandiri, dan tawakal.
Promovendus adalah tokoh Indonesia terkemuka yang selalu gelisah merasakan, melihat dan memandang bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar dan potensial dalam meraih keunggulan di segala bidang.



Tidak ada komentar:
Posting Komentar