‘Tindakan besar diawali dari pemikiran untuk mencapai sesuatu harapan secara bertahap, bangunlah mental yang sulit dibatasi yang mengindikasikan banyak harapan………….setiap orang berhak untuk berhasil dengan memulai sesuatu yang tidak mungkin untuk yang tidak mungkin…………….cepat bertindak memungkinkan kita ‘tidak tenggelam dalam segelas air’, yang menuntut penyelamatan dengan segala cara dan pengambilan kemungkinan-kemungkinan sikap..’
Hati-hati dengan tuntutan , bisa jadi tuntutan ke orang lain dan diri sendiri untuk masalah kesejahteraan. Kalau tuntutan ke orang lain kita menjadi kecil.Ketidakmungkinan yang tidak ditunda dan dimulai dari hal-hal yang kecil yang mungkin dicapai…..yang tidak mungkin bukanlah fakta tetapi merupakan pendapat, hidup dengan menikmati hal yang tidak mungkin (kemampuan, waktu dan bantuan) dengan cara menjadikan yang tidak mungkin masa lalu menjadi sebuah harapan dan cita-cita. Segala sesuatu dimulai dari mimpi, mimpi merupakan sebuah energi untuk membangun kemampuan dan pengetahuan. Ingat ada pendapat mengatakan, ‘Orang tidak membantu anda selama tidak menguntungkan mereka’. Pemantapan mimpi dilakukan dengan menurunkan impian menjadi keinginan yang fokus yang bisa menjawab semua yang pencapaiannya bisa membantu membiayai keinginan yang lain.Tidak perlu mengukur kemampuan sebab kalau ukuran cukup kita menganggap kecil, tapi kalau tidak cukup kita menganggap perlu bantuan.Bagaimana menyikapi kegagalan mewujudkan mimpi, dengan berpedoman bahwa ada waktu bagi segala sesuatu dan kesadaran adalah kekuatan untuk sampai ke tujuan. Untuk mewujudkan 'mimpi' memang butuh waktu panjang. Saya tidak percaya kepada buku-buku yang mengatakan bahwa kita bisa mencapai apa saja, atau menjadi apa saja. Contoh, kita ingin menjadi milyader, namun juga ingin menjalankan hobi memancing sepanjang hari atau main golf sepanjang hari. Jelas ini tidak mungkin. Apalagi jika 'mimpi' kita demikian besar. Mimpi yang besar ini jelas akan 'meminta' pengorbanan kita. Contoh, Seseorang ingin segera menyelesaikan S-3, tentu Seseorang tidak bisa bersantai-santai bukan? Karena mengejar 'mimpi' membutuhkan begitu banyak upaya, maka langkah yang cerdik adalah memilih mimpi-mimpi mana yang memang dambaan kita. Sering kali kita mengejar mimpi karena iklan atau sekadar ikut arus. Misalnya karena orang kaya pasti punya BMW, maka kita juga berjuang agar punya BMW. Punya cita-cita semacam ini oke-oke saja, tapi jika kita orangnya rendah hati, andap asor, tidak suka pamer, terus apa manfaatnya punya BMW? Bukankah lebih baik beli mobil yang efisien dan andal, agar aktivitas kita tidak terganggu.
Ada satu pendekatan yang saya rasa cukup bagus untuk menentukan 'mimpi' kita. Menurut penelitian, orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang mengejar mimpi yang selalu diangankan ketika masih remaja (umur 7 - 14 tahun). Ketika umur segitu, bukankah kita sangat sering berkhayal? Ketika kita menoleh ke masa remaja itu, biasanya itu merupakan cerminan dari jati diri kita, dan layak jika kita harus mengerjarnya mati-matian. Sekali lagi, waktu kita di dunia ini tinggal sempit. Alangkah bagusnya jika waktu yang tersisa itu untuk mengejar sesuatu yang memang jadi impian kita, bukannya hanya sekadar mengejar status, peluang bisnis, ekonomi, atau sekadar menurut iklan. Agar mimpi kita mudah kita wujudkan, sebaiknya punya milestone, ya semacam tonggak-tonggak keberhasilan. Ini penting agar kita tetap bersemangat. mengejar cita-cita itu. Ketika saya kuliah S-2, saya jarang membayangkan saya jadi doktor. Yang saya kerjakan hanya aktivitas S-2 yang macam-macam. Akibatnya, saya tidak terfokus, dan rasanya, tidak selesai-selesai. Tapi begitu membayangkan bahwa saya bisa wisuda, tiba-tiba ada semangat yang besar untuk segera selesai. Kata 'wisuda' ini terpicu oleh ucapan dosen yang mengatakan, "Berarti bapak bisa wisuda bulan Juni dong..." Waktu itu masih 10 bulan dari saat itu. Kata 'wisuda' demikian merdunya dan membangkitkan semangat juang saya. Akhirnya saya selesai, walau wisuda bukan Juni, tapi agustus...ya meleset sedikit. Jadi agar mimpi kita menunjukkan wujudnya, kita bikin saja tonggak-tonggak yang mudah kita capai. Daripada bercita-cita berpenghasilan 1 milyar padahal sekarang masih berpenghasilan 7 juta, lebih baik jika kita bercita-cita bisa berpenghasilan 10 juta per bulan tahun depan. Begitu berhasil, kita naikkan lagi targetnya...dan ternyata untuk mencapai 1 milyar tidak sulit (...ini hanya teori mencapai 1 milyar lho ...saya belum mencapai level itu...tapi sedang berusaha ke sana).
Ada satu pendekatan yang saya rasa cukup bagus untuk menentukan 'mimpi' kita. Menurut penelitian, orang-orang yang sukses adalah orang-orang yang mengejar mimpi yang selalu diangankan ketika masih remaja (umur 7 - 14 tahun). Ketika umur segitu, bukankah kita sangat sering berkhayal? Ketika kita menoleh ke masa remaja itu, biasanya itu merupakan cerminan dari jati diri kita, dan layak jika kita harus mengerjarnya mati-matian. Sekali lagi, waktu kita di dunia ini tinggal sempit. Alangkah bagusnya jika waktu yang tersisa itu untuk mengejar sesuatu yang memang jadi impian kita, bukannya hanya sekadar mengejar status, peluang bisnis, ekonomi, atau sekadar menurut iklan. Agar mimpi kita mudah kita wujudkan, sebaiknya punya milestone, ya semacam tonggak-tonggak keberhasilan. Ini penting agar kita tetap bersemangat. mengejar cita-cita itu. Ketika saya kuliah S-2, saya jarang membayangkan saya jadi doktor. Yang saya kerjakan hanya aktivitas S-2 yang macam-macam. Akibatnya, saya tidak terfokus, dan rasanya, tidak selesai-selesai. Tapi begitu membayangkan bahwa saya bisa wisuda, tiba-tiba ada semangat yang besar untuk segera selesai. Kata 'wisuda' ini terpicu oleh ucapan dosen yang mengatakan, "Berarti bapak bisa wisuda bulan Juni dong..." Waktu itu masih 10 bulan dari saat itu. Kata 'wisuda' demikian merdunya dan membangkitkan semangat juang saya. Akhirnya saya selesai, walau wisuda bukan Juni, tapi agustus...ya meleset sedikit. Jadi agar mimpi kita menunjukkan wujudnya, kita bikin saja tonggak-tonggak yang mudah kita capai. Daripada bercita-cita berpenghasilan 1 milyar padahal sekarang masih berpenghasilan 7 juta, lebih baik jika kita bercita-cita bisa berpenghasilan 10 juta per bulan tahun depan. Begitu berhasil, kita naikkan lagi targetnya...dan ternyata untuk mencapai 1 milyar tidak sulit (...ini hanya teori mencapai 1 milyar lho ...saya belum mencapai level itu...tapi sedang berusaha ke sana).


Tidak ada komentar:
Posting Komentar